Keadilan Ilahi: Asas Pandangan-Dunia Islam

Sampul Depan
Mizan Pustaka, 1 Apr 2009 - 360 halaman
Keadilan, menurut Al-Quran, merupakan pendamping tauhid, rukun ma’ad (hari akhirat), tujuan disyariatkannya nubuwwah (kenabian) dan filsafat kepemimpinan, serta tolok ukur kesempurnaan seseorang dan standar kesejahteraan masyarakat. Masih merujuk pada penjelasan Al-Quran, Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa keadilan merupakan sejenis “pandangan-dunia” (world view).

Dalam buku ini, Muthahhari melakukan eksplorasi atas tema penting dalam khazanah keilmuan-keislaman tersebut, sekaligus mendemonstrasikan wawasan luasnya untuk membuktikan pernyataanya itu. Dalam mengkaji keadilan ini, dia menggunakan baik pendekatan naqliah (pendekatan berdasarkan nash-nash wahyu dan hadis) maupun aqliah (pendekatan filosofis dan teologis berdasarkan rasio).

Sebelum menginjak pada inti kajiannya, pada bagian Pendahuluan Muthahhari menjelaskan secara panjang lebar perdebatan menarik berkaitan dengan soal ini—suatu perdebatan panjang yang akhirnya menghasilkan dua mazhab teologis terkenal dalam pemikiran Islam, yaitu Asy’ariah dan Mu’tazilah. Kemudian, dia juga menjelaskan munculnya soal prinsip keadilan dalam dunia fiqih yang dicerminkan dengan pertentangan antara ahli qiyas dan ahli hadis.

Setelah menjelaskan beberapa kekhasan pemikiran mazhab Syi‘ah dalam membahas tema keadilan, Muthahhari pun menunjukkan betapa tema keadilan ini merupakan rahasia sumber sejati dalam mendinamisasi pemikiran di dunia Islam. [Mizan, Pustaka, Referensi, Agama]
 

Halaman terpilih

Isi

Predestinasi dan Kebebasan Jabr dan Ikhtiyâr
15
Motif dan Tujuan Perbuatan Allah
21
Pengaruh Teologi Islam terhadap Filsafat Islam
29
Polemik Ahli Hadis dan Ahli Qiyâs
35
1
47
Pesimisme Filosofis
86
OlokOlok atau Penolakan?
94
2
99
Kejahatan dan Hubungannya dengan Prinsip Keadilan
151
Ringkasan dan Kesimpulan Umum
190
5
196
Akhirat
215
Korelasi Akhirat dengan Dunia
224
Kisah Guruku
238
Syafaat
244
Memelihara Hukum
252

Apakah Hukum Itu?
128
Ringkasan
134
Kejahatan Adalah Relatif
145
Prinsip Pembersihan
258
Hak Cipta

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2009)

Also Spelled Murtada Mutahhari/ Morteza Motahari/ Murtadha Muthahhari
????? ?????

Mutahhari was born in Fariman village on 31 January 1919. He received primary education in Fariman, then he attended the Hawza of Qom from 1944 to 1952 and left for Tehran. he studied fiqh, usool, tafsir and Islamic philosophy. He was among the prime disciples of Allama Tabatabai and Imam Khomeini. He joined the University of Tehran, where he taught philosophy for 22 years. Between 1965 and 1973 he also gave regular lectures at the Hosseiniye Ershad in Northern Tehran. The particular school of philosophy to which Mutahhari adhered was that of Mulla Sadra which is a
theosophy called "sublime philosophy".

Mutahhari wrote several books on Islam, Iran, and historical topics. His emphasis was on teaching rather than writing. After his death, some of his students worked on writing his lectures and manage them in order to publish them as books. As of the mid-2008, the "Sadra Publishings" published more than 60 books of Mutahhari.

Ayatullah Mutahhari is one of two or
three great contemporary Islamic thinkers of Iran. He was acquainted with
modern ideologies and presented the Islamic perspectives in different
spheres. His thought is internally consistent. His books may be considered as most lasting and important contribution to the rebirth of Islamic Iran. When the Islamic Revolution of Iran triumphed in 1978, Mutahhari was made Chairman of the Revolutionary Council.

On 1 May 1979, Mutahhari was assassinated by gunshot by a member of the Furqan Fighters after leaving a late meeting at the house of Yadollah Sahabi. In honor of Mutahhari, a major street in Tehran, formerly Takhte Tavoos (Peacock Throne in English) was named after him. Mortada Mutahhari Street connects Sohrevardi Street and Vali Asr Street, two major streets in Tehran. He remains to be one of the most influential thinkers of Iran.

Informasi bibliografi