Islam Nusantara: Jalan Panjang Moderasi Beragama di IndonesiaElex Media Komputindo, 9 Feb 2021 - 510 halaman Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Islam Nusantara? Untuk memulai memahami Islam Nusantara, kita harus membedakan antara Islam di Nusantara dan Islam Nusantara. Islam di Nusantara konotasinya penggambaran existing Islam di wilayah Nusantara, termasuk di dalamnya sejarah perkembangan, populasi, dan ciri khas Islam di kawasan Nusantara. Sedangkan Islam Nusantara lebih kepada keunikan sifat dan karakteristik Islam di kawasan Nusantara. Dengan demikian, orang yang ahli tentang Islam di wilayah Nusantara belum tentu memahami konsep Islam Nusantara itu sendiri. Islam Nusantara melibatkan berbagai disiplin keilmuan, seperti ushul fikih, dan penafsiran terhadap nash atau teks agama. Islam Nusantara lebih banyak berhubungan dengan fenomena Islam "as the Islam" ketimbang Islam "as an Islam". Hampir setiap Negara yang berpenduduk mayoritas muslim memiliki istilah khusus untuk mencirikan kekhususan umat Islam di negerinya. Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Muhammad, pernah memperkenalkan Islam Hadharah, Pak SBY sering menyebut Islam Rahmatan lil Alamin, Mantan PM Benazir Bhutto memperkenalkan Islam inklusif. Maka, istilah Islam Nusantara juga merujuk pada pola keberagamaan muslim Indonesia yang hidup berdampingan dalam keberagaman berbangsa dan bernegara. Islam memiliki ajaran dasar dan non-dasar. Ajaran dasar bersifat absolut, universal, dan eternal, seperti seperti rukun iman dan rukun Islam. Sedangkan ajaran non-dasar bersifat fleksibel, kontemporer, dan umumnya berbicara tentang hal-hal yang bersifat cabang (furu'iyyah). Wacana Islam Nusantara berada di dalam ranah ajaran non-dasar. Selama Islam Nusantara masih tetap di dalam wacana ajaran non-dasar maka tidak perlu dikhawatirkan akan adanya kerancuan ajaran, karena Islam sebagai agama akhir zaman selalu membuka diri untuk menerima dan diterima oleh nilai-nilai lokal, sepanjang masih sejalan atau tidak bertentangan dengan ajaran dasarnya. Islam Nusantara merupakan gerakan moderasi beragama yang berkelanjutan, terus bergerak menuju bentuk terbaiknya bagi setiap zaman. Untuk setiap zaman dengan ragam tantangan dan problematikanya, Islam Nusantara bergerak menempatkan agama sebagai panduan untuk mengkreasi model kehidupan berbangsa yang penuh dengan nilai-nilai toleransi, gotong royong dan rukun sejahtera. |
Isi
| 1 | |
Bagian Dua Merajut Harmoni Islam dan NKRI | 143 |
Bagian Tiga Pengalaman Indonesia Merawat Toleransi | 195 |
Bagian Empat Islam dan Tantangan Kebangsaan | 281 |
sebuah Refleksi Kebangsaan | 431 |
| 493 | |
Back | 498 |
Istilah dan frasa umum
abangan adanya agama-agama agamanya agnostisisme al-Qaeda Al-Qur'an aliran apalagi Arab ateisme ayat bagian bahkan Beirut berbagai berbeda boleh budaya cara dakwah datang Deisme Digital Publishing/KG-03/GC dilakukan disebut etnik fikih hadis Hindu Hizbullah hukum ibadah ideal ideologi ISIS istilah Jalan Panjang Moderasi jihad kamu keagamaan kearifan lokal Kehadiran kehidupan kekerasan kekuatan kelompok radikal kepercayaan khairu ummah khususnya kitab suci komunitas konflik konsep lainnya liberalisme lish Madinah masjid mayoritas mazhab melahirkan melakukan melalui memberikan memiliki menggunakan minoritas moderat muncul mungkin muslim Nabi Muhammad saw nasionalisme negara-negara nilai nilai-nilai NKRI non-muslim Nusantara orang-orang ormas paham paling Pancasila Panjang Moderasi Beragama pemahaman peradaban peran perbedaan perkawinan pernah radikalisme Rasulullah saat salah santri sebagaimana Sebaliknya sebuah sejarah sejumlah selalu semakin sering sesungguhnya setiap sinkretisme sistem sosial Suni syari'ah Syi'ah tanpa tentu terjadi termasuk teroris terorisme Timur Tengah tokoh toleransi tradisi Tuhan ulama umat beragama ummah universal urusan Walisongo warga wilayah
