Resensi

Resensi pengguna

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

123

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Buku ini sungguh menyentak. Membongkar seluruh konspirasi sejarah yang selama ini kita yakini lewat tutur kata maupun pelajaran di sekolah. Seandainya tidak ada buku ini, sejarah bangsa Indonesia, tidak ada yang berani menguak setajam dan selugas Dhakidae. Sejarah akan tetap gelap dan kekuasaan bahasa yang diwacanakan akan semakin mendorong bangsa ini saling membenci.
Perdebatan tentang PKI misalnya, hingga saat inipun masih tergelapkan oleh suasana yang tidak fair dalam membaca sebuah sejarah. Dhakidae, dengan menggunakan dokumen transkrip yang asli maupun yang diterbitkan untuk umum dan diberi pengantar oleh Soeharto, disimpulkan bahwa Gerakan G 30 S/PKI, ternyata bukan oleh PKI.
Sejarah Perjuangan Kebangsaan Indonesia, tak bisa dilepaskan dari peran para cendekiawan dari waktu-ke-waktu. Oleh karena itu, menguak sejarah berarti menyoroti: karakter, peran, sumbangan, latar belakang, dan basis sosial-ekonomi-politik.
Melongok sejarah mundur ke belakang pada tahun dimana Boedi Oetomo didirikan. Pada periode ini terjadi suatu gerak a-simetris kebudayaan. Hal itu berupa: Belanda memasuki kebudayaan pribumi sejauh mungkin, dalam pada itu tidak membiarkan pribumi memasuki kebudayaan di bagian yang paling inti yaitu bahasa.
Politik Etis merangsang sesuatu yang sama sekali berbeda dalam perkembangan berikutnya. Yang paling menonjol adalah perlawanan R. M. Soewardi Soerjaningrat yang kelak lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara.Panggung teaternya adalah hari “Kemerdekaan” Belanda dari penjajahan Perancis pada bulan November 1913.
Sarekat Islam pada kesan pertama seolah-olah berusaha keluar dari diskursus Nederlander-Inlander, ketika dimasukkan unsur agama Islam sebagai modalitas bagi diskursus etika. Namun, bila diperiksa dengan teliti maka superioritas Barat dan Belanda tidak dipersoalkan dengan sungguh-sungguh seperti kita bayangkan. Dengan demikian tidak ada perubahan diskursus dari Nederlander versus Inlander menjadi paradigma radikal. Tjokroaminoto, Hadji Dahlan, dan Tirtodanoedjo adalah tokoh yang menarik untuk dikupas.
Ketika Kartini diangkat namanya dalam masa Kolonial, maka Kartini menjadi penting bukan terutama karena ide cemerlang yang dikemukakannya, akan tetapi apa yang kemungkinkan “kecemerlangan” itu, kenapa, dan apa yang terjadi sesudah itu. Kolonialisme sebagai discursive system yang memiliki logika sendiri, ternyata tidak masuk ke dalam cara Kartini mengolah dunianya. Anehnya juga, politik etis dengan program pendidikannya, Boedi Oetomo yang memperjuangkan pendidikan dan dana pendidikan bagi priyayi Jawa dan seluruh rentetan organisasi sesudahnya secara perlahan-lahan namun meyakinkan menciptakan suatu komunitas cendekiawan yang malah menggabungkan dirinya di dalam dunia kapitalisme kolonial dan dunia birokrasi kolonial dengan menawarkan modal simbolik yang dimilikinya yaitu pengetahuan di bidang kedokteran, hukum, engineering, dan administrasi – dan kemudian dengan moneyed capital sendiri terlibat di dalam industri penerbitan seperti Tirtoadhisoerjo yang mendirikan suratkabarnya sendiri dengan modal yang disebutnya sebagai modal boemipoetra.
Ditempatkan dalam perkembangan ini, maka Tan Malaka dan Hatta di Belanda, serta Soekarno di Hindia, membuka diskursus yang sama sekali baru dalam arti membongkar wacana etis menjadi wacana merdeka. Ketika Hatta berkata tentang kemerdekaan maka semuanya bukan puncak akan tetapi menjadi salah satu dari proses. Sementara itu Tan Malaka memimpin Kongres Pemuda di Vrijmetselaarsloge, Lux Orientis dlsb.Jalan pikiran yang sama sudah berlangsung beberapa waktu di Hindia bilamana perhatian diarahkan kepada Soekarno yang bisa dilihat dalam “manifesto” pertama yang dimuat dalam majalah di Bandung tahun 1926.
Soekarno dan Hatta memproyeksikan kemerdekaan Indonesia dengan titik tolak dari dan bersumberkan ke-bangsa-an. Persatuan diterima seolah-olah sudah dengan sendirinya.Namun, bila ditelusuri lebih jauh, proses pertumbuhan menjadi bangsa Indonesia yang didukung oleh bahasanya mengalami kontradiksi-kontradiksi yang luar biasa. Bagaimana mungkin diskursus
 

Semua resensi - 2
5 bintang - 0
4 bintang - 0
3 bintang - 0
2 bintang - 0
1 bintang - 0

Semua resensi - 2
Resensi editorial - 0

Semua resensi - 2