Antosianin: Sifat Kimia, Perannya dalam Kesehatan, dan Prospeknya sebagai Pewarna MakananUGM PRESS, 11 Apr 2018 - 208 halaman Banyak penelitian menunjukkan bahwa antosianin mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. Buah-buahan yang berwarna ungu karena antosianin mempunyai aktivitas antioksidan yang jauh lebih tinggi daripada buah sejenis yang warnanya tidak ungu, misalnya pada buah anggur. Selain itu, sudah diketahui bahwa antosianin mempunyai peranan penting untuk kesehatan manusia, antara lain bila dikonsumsi secara teratur, dapat menurunkan risiko terjadinya jantung koroner, yang sangat dikenal dengan fenomena ‘French paradox’. Selain itu, antosianin juga dapat mencegah terjadinya beberapa jenis kanker. Dalam hal ini, banyak penelitian membuktikan bahwa ekstrak antosianin dari berbagai jenis buah dapat memerangi atau paling tidak memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, baik secara in-vitro terhadap beberapa jenis cell line maupun secara in-vivo dengan beberapa hewan percobaan, ataupun pada manusia sendiri, misalnya terhadap plasma darah atau LDL-nya. Antosianin juga mempunyai potensi sebagai pewarna alami yang aman untuk makanan. Hal ini sangat penting mengingat bahwa pewarna merah makanan yang banyak dipakai selama ini kurang aman bagi kesehatan. Bahkan, beberapa bersifat karsinogen. Pewarna makanan yang sebenarnya sudah dilarang oleh pemerintah, masih secara luas dijumpai penggunaannya oleh masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah yang justru jumlahnya cukup banyak, dan juga banyak dijumpai masih digunakan pada makanan/jajanan anak-anak, generasi muda yang seharusnya dijauhkan dari makanan yang tidak aman. Oleh sebab itu, antosianin mempunyai potensi untuk menjauhkan anak-anak dari mengonsumsi pewarna merah yang tidak aman. Indonesia mempunyai potensi yang besar sebagai sumber penghasil antosianin, yaitu memiliki berbagai jenis buah dan sayur yang mengandung antosianin, baik dari tanaman asal Indonesia sendiri, seperti: buah duwet, jantung pisang, kulit rambutan, kulit manggis, kulit gowok, kulit terung, dan sebagainya; maupun dari tanaman yang mengandung antosianin dari daerah lain yang dapat tumbuh dengan baik di Indonesia, seperti buah anggur, bunga rosela, buah murbei, dan sebagainya. Penelitian terhadap tanaman-tanaman asli Indonesia belum secara tuntas dilakukan, apalagi penggunaan sesuai dengan potensinya. Fenomena ini seharusnya dapat membangkitkan minat dan kesadaran peneliti, masyarakat awam, ataupun para pengusaha di Indonesia untuk secara bersama-sama memanfaatkan potensi yang belum tergali ini sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. [UGM Press, UGM, Gadjah Mada University Press] |
Isi
| 4 | |
Tabel 21 Total kandungan antosianin beberapa jenis buah | 6 |
Gambar 21 Metabolisme fenilpropanoid umum | 11 |
Gambar 22 Jalur biosintesis antosianin | 12 |
Gambar 23 Perubahan konsentrasi pigmen dalam perkembangan buah stroberi | 14 |
Tabel 22 Kadar total antosianin dan polifenol buah duwet dari beberapa tingkat pematangan | 16 |
Tabel 23 Hasil pengukuran warna buah duwet pada berbagai tingkat pematangan menggunakan kromameter | 17 |
Bab III | 19 |
Bab VII | 115 |
Gambar 71 Perbandingan ekspresi warna ekstrak antosianin kubis merah wortel hitam dan elderberry pada produk ekstrusi dengan pH netral dan pH ... | 117 |
Tabel 71 Purata antosianin yang terekstrak dengan menggunakan asam tartarat sitrat | 119 |
Tabel 72 Purata antosianin yang terekstrak dengan menggunakan berbagai konsentrasi asam tartarat | 120 |
Tabel 73 Hasil uji hedonik agaragar dengan pewarna jantung pisang kepok dan agaragar dengan pewarna sintetis sebelum penyinaran | 126 |
Gambar 73 Spektra absorpsi ekstrak jantung pisang kepok dalam pelarut metanolHCl 1 | 128 |
Tabel 74 Konstanta laju degradasi warna agaragar dengan pewarna jantung pisang kepok 25 | 129 |
Tabel 75 Hasil uji hedonik agaragar pewarna ekstrak jantung pisang kepok 25 setelah penyinaran | 130 |
Gambar 32 Struktur antosianidin umum | 20 |
Gambar 33 Antosianidin yang umum dijumpai | 21 |
Tabel 31 Jenis antosianidin yang dominan pada beberapa tanaman | 22 |
Gambar 34 Beberapa gula yang ditemukan dalam antosianin | 23 |
Gambar 36 Sianidin36pkoumarilglikosida5glikosida | 24 |
Gambar 37 Perubahan struktur antosianin karena pengaruh pH | 25 |
Tabel 32 Warna ekstrak buah duwet yang mengandung antosianin dan absorbansi maksimumnya pada pH 18 | 26 |
Bab IV | 27 |
Tabel 41 Uji untuk membedakan antosianin dan betasianin | 32 |
Tabel 42 Karakteristik beberapa jenis antosianidin yang umum dijumpai | 42 |
Tabel 43 Tabel nilai Rf dari beberapa antosianin yang umum dijumpai | 43 |
Gambar 41 Spektrum absorpsi pelargonidin sianidin dan delfinidin | 48 |
Tabel 44 Nilai Rf gula pada beberapa solven | 52 |
Bab V | 58 |
Tabel 51 Korelasi antara konsentrasi antosianin dan aktivitas antioksidan | 59 |
OLE_LINK1 | 61 |
Gambar 51 Absorban pada λ 520 nm yang menunjukkan jumlah peroksida pada sampel | 62 |
jf049696wb00032 | 70 |
Bab VI | 72 |
Tabel 61 Total kandungan antosianin jantung pisang klutuk dan jantung pisang ambon mg100 g sampel | 73 |
Tabel 62 Rangkuman hasil KLT antosianidin jantung pisang klutuk | 74 |
Tabel 63 Rangkuman hasil KLT antosianidin jantung pisang ambon | 75 |
Tabel 64 Antosianidin dari jantung pisang klutuk dan pisang ambon | 78 |
Gambar 62 Kromatogram KCKT antosianidin dari jantung pisang klutuk | 79 |
Gambar 63 Kromatogram KCKT antosianidin dari jantung pisang ambon | 80 |
Gambar 64 Profil kromatogram antosianidin kulit buah jenitri | 83 |
Tabel 65 Rangkuman hasil identifikasi ekstrak antosianidin kulit buah jenitri | 84 |
a antosianidin murni b antosianidin kulit buah jenitri Fase diam Eurosphere RP C18 5 mm 150 46 mm Fase gerak 10 asam format dalam air aseton... | 85 |
Gambar 66 Profil kromatogram antosianin kulit buah jenitri | 87 |
Tabel 66 Rangkuman hasil identifikasi ekstrak antosianin kulit buah jenitri | 88 |
asetonitril 85 15 vv Kecepatan alir 12 mlmenit Volume injeksi 20 ml Dideteksi pada 5 | 89 |
Tabel 67 Antosianin terekstrak dengan asam tartarat asam asetat dan asam sitrat | 92 |
Tabel 68 Hasil KLT dan spektra antosianidin kulit buah purwokucilo | 94 |
Tabel 69 Hasil KCKT antosianidin kulit buah purwokucilo | 96 |
Tabel 610 Hasil KLT dan spektra antosianin kulit buah purwokucilo | 98 |
Gambar 611 Kromatogram antosianin dari kulit buah purwokucilo | 99 |
Tabel 611 Hasil KCKT antosianin kulit buah purwokucilo | 100 |
Gambar 612 Dua jenis Coleus scutellarioides L Benth | 102 |
Tabel 612 Total kandungan antosianin Coleus scutellarioides L Benth var Crispa dan Coleus scutellarioides L Benth var Parvifolius | 103 |
Tabel 613 Hasil identifikasi antosianidin dengan KLT pada Coleus scutellarioides L Benth var Crispa | 104 |
Tabel 614 Hasil identifikasi antosianidin dengan KLT pada Coleus scutellarioides L Benth var Parvifolius | 105 |
Tabel 615 Identifikasi antosianin dengan KLT pada Coleus scutellarioides L Benth var Crispa dan Coleus scutellarioides L Benth var Parvifolius | 107 |
Tabel 616 Nilai Rf ekstrak buah duwet pada kertas kromatografi dengan beberapa jenis larutan pengembang | 109 |
Tabel 76 Kandungan betalain umbi bit dan sari umbi bit merah | 133 |
Tabel 78 Hasil uji organoleptik | 134 |
Gambar 74 Spektra ekstrak umbi bit merah dalam 1 HCl pada metanol | 136 |
a sebelum disinari dan b setelah disinari selama 10 jam dengan intensitas 87906 lux c 168854 lux d 23422 lux e 67522 lux | 138 |
Tabel 79 Konstanta laju degradasi warna agaragar sari bit 5 jam1 | 139 |
Gambar 78 Degradasi betanin secara umum | 140 |
Gambar 79 Struktur betanin | 141 |
Tabel 710 Kadar betalain daging umbi bit merah dan sari umbi bit merah | 143 |
Gambar 711 Sirop bit merah dengan beberapa tingkatan konsentrasi dan tambahan pewarna sintetis | 144 |
Tabel 711 Uji organoleptik sirop dengan berbagai penambahan sari bit merah dan pewarna sintetis | 146 |
Tabel 712 Kadar air umbi bit merah | 147 |
Tabel 713 Konstanta laju degradasi warna sirop umbi bit merah 5 jam1 | 148 |
Tabel 714 Nilai t12 warna sirop umbi bit merah 5 | 149 |
Tabel 715 Total kandungan antosianin kelopak rosela kering | 151 |
Gambar 712 Spektra absorpsi ekstrak rosela dalam pelarut akuades | 153 |
Tabel 716 Konstanta laju degradasi warna ekstrak rosela | 154 |
Gambar 714 Pengaruh intensitas cahaya terhadap konstanta laju degradasi warna ekstrak rosela | 155 |
Tabel 717 Konstanta laju degradasi warna sirop rosela | 156 |
Tabel 718 Hasil uji perbandingan warna rasa dan bau sirop rosela | 158 |
Tabel 719 Stabilitas warna ekstrak buah duwet pada pH 18 | 160 |
Tabel 720 Stabilitas warna ekstrak buah duwet terhadap paparan sinar UV | 161 |
Tabel 721 Nilai L C dan Hue Angle pada antosianin murni dan antosianin yang mengalami kopigmentasi | 162 |
Bab VIII | 168 |
Tabel 81 Warna dan absorbansi maksimum ekstrak buah duwet | 169 |
Tabel 82 Kandungan polifenol ekstrak buah duwet pada beberapa kondisi ekstraksi mgg | 170 |
Tabel 83 Antosianin terekstrak dari buah duwet pada beberapa kondisi ekstraksi mgg | 171 |
Tabel 84 Aktivitas antioksidan ekstrak buah duwet pada beberapa kondisi ekstraksi | 172 |
Gambar 81 Hubungan antara kadar antosianin dan aktivitas antioksidan dengan pelarut metanolHCl 1 | 175 |
Gambar 84 Hubungan antara kadar antosianin dan aktivitas antioksidan dengan pelarut air | 176 |
Gambar 85 Hubungan antara kadar polifenol dan aktivitas antioksidan dengan pelarut metanolHCl 1 | 177 |
Gambar 87 Hubungan antara kadar polifenol dan aktivitas antioksidan dengan pelarut aseton | 178 |
Tabel 85 Kerusakan vitamin C 1000 ppm dengan dan tanpa eritrosin 100 ppm | 181 |
Gambar 89 Laju kerusakan vitamin C dengan dan tanpa eritrosin 100 ppm tanpa paparan cahaya | 182 |
Tabel 86 Peran ekstrak buah duwet dalam mencegah kerusakan vitamin C | 183 |
Gambar 810 Peran ekstrak buah duwet dalam mencegah kerusakan vitamin C | 184 |
Tabel 87 Pengaruh pH terhadap warna ekstrak buah duwet dalam metanolHCl 1 | 186 |
Tabel 88 Pengaruh sinar UV 254 nm terhadap stabilitas warna diekspresikan sebagai persentase perubahan nilai absorbansi pada absorbansi maksimu... | 187 |
Tabel 89 Fraksinasi ekstrak buah dengan kolom kromatografisilika gel 60 | 188 |
Tabel 810 Aktivitas antioksidan dari fraksi kromatografi kolom | 190 |
Tabel 811 Nilai Rf aglikon dari ekstrak buah | 191 |
Bab IX | 199 |
