Indonesia dan COVID-19: Pandangan Multi Aspek dan Sektoral

Sampul Depan
Fajar B. Hirawan
Centre for Strategic and International Studies, 21 Okt 2020 - 273 halaman

Sudah lebih dari enam bulan sejak ditemukannya kasus pertama di awal bulan Maret 2020, Indonesia bergelut dengan wabah virus korona atau sering disebut COVID-19. Penyebaran virus ini secara nasional maupun global semakin mengkhawatirkan. Bahkan, di beberapa negara, yang pada awalnya dianggap telah sukses dalam mengurangi angka pasien terinfeksi COVID-19, mulai mengalami penyebaran virus gelombang kedua. Indonesia sendiri sebenarnya sudah melakukan beberapa langkah antisipatif dengan membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sejak pertengahan Maret 2020 dan mulai pertengahan Juli 2020 berganti nama menjadi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Meskipun begitu, banyak kalangan masyarakat yang masih saja menyayangkan kurang sigapnya dan ada kesan kurang terbukanya Pemerintah Indonesia dalam menyampaikan informasi terkait penanganan COVID-19, khususnya di masa-masa awal ditemukannya kasus positif di Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir ini, kegelisahan beberapa pihak justru lebih ke arah lambannya penyerapan dana stimulus COVID-19 yang telah disiapkan oleh Pemerintah Indonesia. Namun, harapan untuk segera keluar dari krisis ini masih sangat terbuka lebar, khususnya melalui upaya koordinasi dan kolaborasi yang optimal dari semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, lembaga penelitian, institusi pendidikan, hingga komunitas masyarakat.

Sebagai lembaga penelitian yang telah sejak 1971 aktif dalam perdebatan publik, baik secara nasional maupun internasional, dan seringkali menjadi sumber referensi bagi masyarakat dan pemangku kebijakan, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), khususnya melalui Disaster Management Research Unit (DMRU), mengompilasi beberapa tulisan CSIS Commentaries terkait Indonesia dan COVID-19 yang mengupas tuntas perkembangan upaya penanganan COVID-19 di Indonesia dari berbagai aspek. Dalam buku ini, terdapat sebelas aspek yang dianalisis dalam kaitannya dengan Indonesia dan COVID-19, di antaranya aspek hubungan internasional dan perbandingan politik, kebijakan sektor digital dan pendataan, pertahanan dan tata kelola keamanan, manajemen kebencanaan dan lingkungan, ekonomi dan ketenagakerjaan, politik, kebijakan publik dan kepemerintahan, hukum dan sejarah, keagamaan dan kebudayaan, perkotaan, serta aspek kelompok rentan dan inklusi sosial.

 

Isi

Bagian 1
23
Bagian 2
75
Bagian 3
96
Bagian 4
123
Bagian 5
127
Bagian 6
128
Bagian 7
130
Bagian 8
151
Bagian 10
181
Bagian 11
204
Bagian 12
218
Bagian 13
235
Bagian 14
248
Bagian 15
255
Bagian 16
272
Hak Cipta

Bagian 9
153

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2020)

Fajar B. Hirawan is a Researcher at the Department of Economics, Centre for Strategic and International Studies (CSIS). He has joined CSIS since November 2006. His research mainly focuses on how to improve the economy in the global world, including related to the issue of food security, international trade, creative/digital economy, small and medium enterprises (SMEs), rural-urban poverty, and any issues in development economics. He is active in several research networks nationally, regionally, and globally.

Since 2010, he has been active teaching in several universities in Indonesia, such as University of Indonesia, Prasetiya Mulya Business School, University of Multimedia Nusantara, and School of Government and Public Policy. As a Faculty Member at School of Government and Public Policy, he teaches several courses, such as Macroeconomics, Policies for Economic Development, and Indonesia and its Interconnected World. Besides research and teaching activities, he is also very active in public debate related to economic issues through the seminar, workshop, papers/articles, and media interviews.

Fajar received his Bachelor degree in Economics at Faculty of Economics, University of Indonesia (2006) and Master in Development Studies at University of Rome “La Sapienza,” Italy (2009). He holds a Ph.D. in Economics from School of Economics, University of Sydney, Australia (2017).

Informasi bibliografi