Borasih

Sampul Depan
Effington Books, 20 Mar 2026 - 272 halaman

Ketika kecantikan bukan lagi sebuah produk perawatan, melainkan sebuah ritus kuno perlawanan perempuan.

Di kaki Bukit Ciambarang, dua perempuan bersua, dalam konflik seteru dua trah bisnis kosmetika raksasa. Galinggih di Timur, dan Wirasandi di Barat. Mereka adalah pewaris trauma dari pertikaian konflik dan politik Ciambarang. Sains dan spiritualitas. Bisnis dan trauma. Tradisi dan modernisasi.

Borasih, sebuah novel tentang perempuan, intrik relasi kuasa, ramuan mistis, dan budaya patriarki yang menjerat kaum perempuan.


 

Isi

Bagian 1
1
Bagian 2
13
Bagian 3
21
Bagian 4
37
Bagian 5
47
Bagian 6
59
Bagian 7
85
Bagian 8
101
Bagian 11
149
Bagian 12
157
Bagian 13
177
Bagian 14
191
Bagian 15
215
Bagian 16
227
Bagian 17
243
Bagian 18
257

Bagian 9
125
Bagian 10
137
Bagian 19
260
Hak Cipta

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2026)

Foggy FF memiliki latar belakang di bidang tata kecantikan kulit dan pernah

menekuni pembangunan jejaring bisnis perawatan kulit berbasis kosmetika herbal.

Ia meyakini bahwa pertumbuhan bisnis tidak semata ditentukan oleh besarnya

modal, melainkan oleh ketepatan strategi dan skema usaha. Berangkat dari

pemahaman tersebut, Foggy mendirikan sebuah rumah perawatan yang

memadukan teknologi modern dengan bahan baku kosmetika alami.

Perjalanan hidup kemudian membawanya menekuni dunia kepenulisan. Foggy aktif

sebagai penulis esai yang mengangkat isu pemberdayaan perempuan, dengan

fokus pada kritik terhadap konstruksi sosial atas tubuh dan kecantikan. Pengalaman

di industri kecantikan mendorongnya untuk menggali makna kecantikan secara lebih

mendalam, terutama dalam konteks komodifikasi tubuh dan politik penubuhan.

Foggy memandang bahwa narasi sosial mengenai tubuh perempuan masih sangat

timpang dan kerap dikendalikan oleh kepentingan industri kapitalistik serta budaya

patriarkis. Oleh karena itu, melalui karya-karyanya, ia berupaya mempertanyakan

kembali relasi kuasa yang membentuk standar kecantikan, sekaligus membuka

ruang refleksi tentang otonomi perempuan atas tubuhnya sendiri—tanpa

dikendalikan oleh kepentingan industri kosmetik global.

Novel ini mengangkat intrik dan dinamika politik yang melekat pada tubuh

perempuan sebagai bagian dari upaya merebut kembali narasi “cantik” yang lebih

egaliter. Karya ini juga menjadi bentuk gugatan terhadap politisasi tubuh perempuan,

dengan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari politik dan

relasi kuasa—terutama ketika menyangkut tubuh perempuan.

Informasi bibliografi