Bahasa Jepang dan Gender: Sebuah PengantarNilacakra, 1 Apr 2020 - 364 halaman Salah satu bahasa yang memiliki nuansa gender adalah bahasa Jepang. Dalam masyarakat penutur bahasa Jepang, dikenal adanya danseigo (ragam bahasa pria) dan joseigo (ragam bahasa wanita). Pemakaian danseigo dan joseigo dapat merefleksikan maskulinitas atau femininitas penuturnya. Eksplorasi terhadap penggunaan joseigo di lapangan dapat memperdalam pemahaman mengenai bagaimana bentuk linguistik bisa dieksploitasi lebih jauh dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang umumnya diasumsikan atas bentuk linguistik tersebut. Belajar lebih jauh mengenai ragam bahasa Jepang berdasarkan gender sangat penting dalam pembelajaran sosiolinguistik Jepang. Oleh karena itu, pentingnya buku yang secara khusus membahas tema tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Buku yang merupakan salah satu luaran dari disertasi penulis yang berjudul “Joseigo dan Pergeserannya pada Wanita Jepang di Ubud” ini mencoba mengupas secara tuntas mengenai ragam bahasa Jepang berdasarkan gender dikaitkan dengan perkembangan kesetaraan gender di Jepang. Buku ini juga membahas bahasa Jepang dan gender berdasarkan tinjauan sejarah serta karakteristiknya. Dengan demikian, pemerhati bahasa Jepang dapat mendapatkan pengetahuan tentang bahasa Jepang dan gender serta dapat membandingkannya dengan keadaan yang sesungguhnya. Buku ini juga secara umum diharapkan dapat bermanfaat sebagai rujukan dalam kajian sosiolinguistik Jepang. |
Isi
Bagian 18 | 232 |
Bagian 19 | 238 |
Bagian 20 | 239 |
Bagian 21 | 240 |
Bagian 22 | 242 |
Bagian 23 | 246 |
Bagian 24 | 247 |
Bagian 25 | 248 |
Bagian 9 | 202 |
Bagian 10 | 208 |
Bagian 11 | 210 |
Bagian 12 | 211 |
Bagian 13 | 216 |
Bagian 14 | 223 |
Bagian 15 | 225 |
Bagian 16 | 230 |
Bagian 17 | 231 |
Bagian 26 | 267 |
Bagian 27 | 269 |
Bagian 28 | 270 |
Bagian 29 | 276 |
Bagian 30 | 283 |
Bagian 31 | 290 |
Bagian 32 | 326 |
Bagian 33 | 331 |
