Madrasah Dan Profesionalisme Guru Dalam Arus Dinamika Pendidikan Islam Di Era Otonomi DaerahKencana, 2017 - 382 halaman Di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, madrasah seperti halnya juga pondok pesantren memiliki peran yang tidak bisa diabaikan hingga kini. Secara historis, madrasah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang lahir dari kesadaran kritis kalangan umat Islam di awal abad ke-20M. Kesadaran kritis tentang ketertinggalan umat Islam Tanah Air di tengah cengkeraman kuat kolonialisme Belanda dan ketatnya penetrasi zending Kristen melahirkan madrasah sebagai lembaga penting pembangunan kehidupan umat Islam.ÊNamun dalam perkembangannya, madrasah menemukan beragam tantangan yang tidak sedikit. Mulai dari dinamika keilmuan yang menuntutnya mempertahankan sikap adaptif atas perkembangan zaman hingga perhatian pemerintah yang dinilai sangat jauh dibanding perhatian yang diberikannya pada sekolah-sekolah umum. Terlepas dari beragam tantangan yang dihadapi, madrasah tetap berjalan dan mempertahankan kontribusinya dalam kehidupan masyarakat Muslim di Tanah Air hingga kini. Buku ini merupakan kompilasi tulisan Kang Dede yang pernah dipresentasikan atau dipublikasikan di sejumlah kesempatan. Karena itu, jika ditemukan kesamaan atau pengulangan, karya ini tidak dimaksudkan sebagai self-plagiarism. Alih-alih demikian, karya ini merupakan bagian dari ikhtiar kontekstualisasi sekaligus penegasan gagasan tentang perlunya pengembangan madrasah dan penguatan profesionalisme guru sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan di Tanah Air.
***
Persembahan penerbit Kencana (PrenadaMedia) |
Isi
| 3 | |
Bagian 2 | 30 |
Bagian 3 | 39 |
Bagian 4 | 52 |
Bagian 5 | 59 |
Bagian 6 | 71 |
Bagian 7 | 88 |
Bagian 8 | 106 |
Bagian 14 | 173 |
Bagian 15 | 184 |
Bagian 16 | 213 |
Bagian 17 | 226 |
Bagian 18 | 227 |
Bagian 19 | 248 |
Bagian 20 | 268 |
Bagian 21 | 277 |
Bagian 9 | 107 |
Bagian 10 | 121 |
Bagian 11 | 131 |
Bagian 12 | 147 |
Bagian 13 | 172 |
Bagian 22 | 278 |
Bagian 23 | 286 |
Bagian 24 | 287 |
Bagian 25 | 335 |
Istilah dan frasa umum
agar akademik aktivitas aspek bahan ajar bahkan belajar siswa berbagai kompetensi berbasis berpikir boleh budaya constructivism dikembangkan dilakukan Education efektif etnik evaluasi Finlandia full day school guru harus memiliki hasil belajar ilmu informasi internet kebijakan kebutuhan kecerdasan keguruan kekerasan kelas kelompok kemajuan kepala sekolah keragaman kerja keterampilan kompetensi sosial komunikasi konsep konteks kreatif kreativitas kultur kurikulum lainnya learning lulusan madrasah mampu manajemen mata pelajaran matematika materi maupun melakukan melalui melting pot memberikan layanan memiliki kemampuan memiliki kompetensi memperoleh mencapai mengajar mengembangkan Menteri Pendidikan Nasional mentoring model multikultural multikulturalisme mungkin Nasional OECD orangtua siswa Pasal Paulo Freire pedagogi pekerjaan pelaksanaan pelanggan peluang pendidik pengelolaan pengetahuan penguasaan penilaian peningkatan kualitas perilaku perubahan peserta didik portofolio profesi profesional program proses pembelajaran psikologi kognitif quality reformasi Rosyada Sallis sebab sebagaimana sebuah sekolah/madrasah sektor seluruh sesuai sikap sistem siswanya skill standar strategi sumber belajar Teaching teknologi teknologi informasi teori tugas tujuan yakni
