Quo Vadis Pendidikan dan Gerakan Sosial Agama Lokal di Indonesia

Sampul Depan
Penerbit NEM, 5 Des 2022 - 171 halaman

Berbagai upaya untuk menghilangkan diskriminasi pendidikan bagi agama lokal sudah dilakukan bangsa Indonesia. Misalnya saja terbitnya (MK) No. 977/PUU-XIV/2016 tentang Identitas Penghayat, serta terbitnya Permendikbud No. 27 tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Agama bagi Komunitas Penghayat. Namun demikian, pada tataran praktis di lapangan, diskriminasi pendidikan masih dirasakan agama lokal di Indonesia.

Di mana pun, diskriminasi sering kali terjadi karena hegemoni mayoritas atas minoritas. Untuk bertahan, komunitas agama lokal menggunakan pendidikan untuk menjaga serta melestarikan berbagai nilai yang diyakini. Pada konteks gerakan sosial, upaya untuk bertahan melalui jalur pendidikan ini dapat dikategorikan sebagai gerakan sosial baru. Sebelumnya, berbagai gerakan sosial lebih banyak mengandalkan pada kesempatan politik (opportunity political structure), serta sumber daya organisasi (resource mobilization). Kegigihan menggunakan jalur pendidikan untuk melestarikan nilai, membuat keberadaan 3 agama lokal tetap eksis di Indonesia, hingga saat ini.

Buku ini mengungkap berbagai ajaran, pendidikan nilai serta gerakan sosial yang dilakukan, serta diskriminasi pendidikan yang dirasakan 3 agama lokal di Indonesia. Semoga, kehadiran buku ini dapat memberi kontribusi bagi semakin kuatnya harmoni kehidupan bernegara di Indonesia.

 

Halaman terpilih

Isi

01 BAB 1 PENDAHULUANpdf p911
1
02 BAB 2 DISKRIMINASI PENDIDpdf p1253
4
03 BAB 3 SEJARAH BERDIRIpdf p5487
46
04 BAB 4 DISKRIMINASI PENDIDIKApdf p88153
80
05 BAB 5 PENUTUPpdf p154155
146
06 DAFTAR PUSTAKApdf p156169
148
07 TENTANG PENULISpdf p170
162
Hak Cipta

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2022)

Nanang Hasan Susanto, lahir di Indramayu, 15 Maret 1980. Pendidikan terakhir ditempuh di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, konsentrasi Pendidikan Islam. Aktivitas penulis saat ini selain mengajar pada jenjang sarjana dan pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, adalah sebagai Kepala Pusat Moderasi Beragama di universitas tersebut. Jalin kerja sama dengan penulis via surel nananghasansusanto@uingusdur.ac.id.

Nur Kholis, lahir di Jakarta, 07 Februari 1975. Pendidikan terakhir ditempuh di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, konsentrasi Pendidikan Islam. Aktivitas penulis saat ini selain mengajar pada jenjang sarjana dan pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, adalah sebagai Kepala Pusat Bahasa di universitas tersebut. Jalin kerja sama dengan penulis via surel nurkholis@uingusdur.ac.id.

Informasi bibliografi