KEGAGALAN HIDUP ADALAH TITIK PENCAPAIAN TERTINGGI: Seni Hidup Tanpa Satire Motivasi

Sampul Depan
CV Cendekia Press, 29 Agu 2021

Bagian ini saya yakin akan dibaca terlebih dahlu, psikologis orang yang membaca itu adalah lihat sampul buku, siapa penulisnya. Lalu apa sih, kesimpulan isi buku ini, atau setidaknya sinopsis buku ini, sebenarnya ini adalah tradisi yang ‘kurang tepat’, membaca bagian belakang buku ini adalah hanya kulit luar saja, maka tafsir Anda terhadap saya akan keliru, bukan dalam artian saya ini orang yang lurus, tidak!, namun setidaknya ada tafsir hidup yang lebih banyak tentang saya dan teori yang saya baca, ketika Anda membaca seluruh isi buku ini. Andai saja saya ini terkenal, Anda sebagai pembaca buku ini, tidak akan melihat sampul buku ini, langsung anda bawa kemana – mana. Maksudnya covernya jelek sekalipun tidak masalah, ini tradisi yang harus kita kritisi.  

 

Sebagian substansi dari buku ini adalah perjalanan hidup saya pribadi, di kemas melalui teori yang saya pelajari secara autodidak /swasiswa / autodídaktos, perjalalan menulis menulis buku ini dimuali sejak tahun 2010, setiap hari selalu ada revisi kehidupan, perbaikan kualitas hidup, garam kehidupan, menu jiwa yang selalu tidak seimbang, lapar, haus, hati ini akan hausnya pengetahuan. Tidak secara sengaja, setiap ke Toko Buku selalu ada saja buku – buku yang membangun motivasi hidup, menggugah hidup, mereka kebanyakan memiliki kisah yang sama seperti saya. 2018 ada satu buku yang benar – benar menjadi warna seimbang bagi buku ini, bahkan setiap kisah yang saya dapatkan dari hidup saya, seolah – olah itu ada satu kesamaan khusus, ya…dia adalah Mark Manson, yang mencoba untuk “bersikap bodo amat”. Saya bukanlah seseorang yang benar – benar dibutuhkan oleh satu Perusahaan / satu Instansi, bahkan saya adalah orang yang terbuang dan dikucilkan dari pergaulan normal / tradisi positivistik, yang kebanyakan mereka lakukan, saya mau hidup ini tidaklah sama, ada keberagaman, ketika saya mempelajari Manajemen, saya memilih untuk mempelajari Manajemen Kontemporer, yang berada pada posisi luar kuantitatif, data statistik bisa saja di “lacurkan”, untuk mendapatkan hasil apa yang sesuai dengan harapan. Seorang mahasiswa bisa saja berbohong dengan data statistik, apakah kualitatif dengan kualitas yang nyata, penafsiran hidup ini dapat dibohongi?, nah..saya memulai itu semuanya dengan tidak “membohongi diri”. Bayangkan, berapa ribu karya hasil para Mahasiswa S1, S2, bahkan S3 yang berdimensi kuantitaif, hasil akhirnya adalah kualitas yang dipertaruhkan, tidak selalu ‘soal angka’ buku ini adalah bukan bagian dari kebanyakan tentang motivasi, bukan ukuran angka adalah bagian buku ini, bahkan ada ketakterhinggaa (~) kalau selalu ada defenisi tentang angka. 

 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Penilaian pengguna

5 bintang
14
4 bintang
3
3 bintang
2
2 bintang
0
1 bintang
0

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Buku ini ringan dibaca, dipahami dengan cepat dan banyak hal-hal yang saya screenshoot karena menurut saya bisa dijadikan noted untuk diri saya pribadi.
Buat saya, buku ini bukan hanya sebuah buku
untuk pengetahuan. Tapi buku yg membuat saya yakin bahwa saya bisa lakukan semua dengan usaha dan doa. Buku ini membuat saya berfikir segala sesuatu yg kita lakukan tidak akan pernah terlepas dr yang namanya tuhan, usaha, orangtua.
Bahasa cukup bisa saya pahami secara gampang karena tipe saya yang sgt suka membaca dgn kata-kata ribet. Dikemas menjadi buku yg gampang dibaca membuat saya larut dalam memahami buku ini.
Dulu saya pernah bermimpi,kalau lulus nanti saya ingin cumlaude. Tp apakah gelar cumcalude ini biaa saya oertanggung jawabkan? Atau saya implementasikan lebih? Skrng tujuan saya. ‘Menjadikan “terbaik” menjadi pegangan saya. Apapun yang dilakukan akan memberikan kesan puas. Walau akhirnya hasilnya nanti tidak dapat kita lihat, yg dapat kita lihat adalah kita telah melakukan yg terbaik. Terimakasi tlh menyadarkn. I love this book!
 

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Dari buku ini saya belajar bahwa segala sesuatu sudah di atur oleh Allah swt,menjalani hidup sederhana dan bersyukur mengajari tentang matrealisme,tentang materi duniawi yg memang selauruh umat manusia membutuhkan nya termasuk nabi Muhammad.Kecintaan manusia terhadap harta dunia seakan menjadi identitas manusia masing-masing yg rakus akan dunia,sifat manusia yang megah dikelilingi harata,buku ini yang ditujukan juga untuk mereka yang selama ini menjadi korban pendididkan di negara ini,fakta sekolah yang sangat mahal.Penulis juga mengkritik tentang keadaan pendidikan di Negara Indonesia, yang dimana pendidikan di Indonesia itu mengharuskan kepada seluruh siswa-siswi untuk menguasai semua mata pelajaran yang ada, tidak memikirkan para siswa yang yang memiliki minat yang berbeda-beda tentunya.Melihat perbedaan pendididkan di negara maju yaitu kegiatan akademis dan ekstrakulikuler.Penulis juga menceritakan tentang IQ dan EQ, otak adalag perangkat untuk meramu berbagai hal soal kehidupan kehiduoan, kejadian kehidupan. Sedangkan emosional adalah rasa, untuk kemanusiaannya jelas, agar otak dapat bekerja dengan baik dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi 
Dalam bab ini mengingatkan kita agar membatasi satu kemewahan duniawi agar mendapatkan ketenangan hidup artinya dunia ini hanyalan persinggahan semata untuk menuju akhirat, sehingga kita tidak perlu berlomba-lomba untuk meraih dunia. Jika kita tidak berlomba mengejar dunia, maka tidak ada yang namanya korupsi, tipu-menipu, perang dan lain lain. Memikirkan dunia hanyalah sebuah penyakit dunia saja.Kelebihan buku ini adalah senantiasa menggantungkan tuhan dalam setiap permasalahan hidup didunia ini. karena tahu hidup di dunia ini hanya sementara serta memberikan motivasi kepada semua orang agar jangan mudah menyerah. 
 

10 resensi sekaligus »

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2021)

ADANG, Manusia pilihan Tuhan untuk menulis buku ini. Dapat dihubungi di 081322928844 / ahermeneutika@yahoo.com 


"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu.  ~Ali bin Abi Thalib~

Informasi bibliografi