Studi Islam

Sampul Depan
Gema Insani, 24 Apr 2020 - 382 halaman
0 Resensi
Ulasan tidak diverifikasi, tetapi Google akan memeriksa dan menghapus konten palsu jika konten tersebut teridentifikasi

Buku ini adalah himpunan dari lima brosur kecil Buya Hamka yang pernah tersiar secara terpisah-pisah (ditulis sekitar tahun 70-an), yang berasal dari polemik, ceramah, dan artikel dalam majalah Panji Masyarakat, yang pengarangnya dengan gaya popular membahas soal-soal kenegaraan dan cita-cita Islam. Tulisan Buya Hamka ini ditulis ketika ramai isu modernisasi dan sekularisasi diperdebatkan melalui berbagai publikasi lalu dibukukan.


[Gema Insani] [Buya Hamka] [Hamka]

 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Kami tak menemukan resensi di tempat biasanya.

Halaman terpilih

Isi

Syariat Islam
1
Paham yang Menghebohkan
13
Islam untuk Dunia dan Akhirat
42
Islam Aqidah Syariat dan Ibadah
90
Hubungan Antara Agama dan Negara menurut Islam
249
Perbandingan Antara HakHak Asasi Manusia Deklarasi PBB dan Islam
286
Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian
338
Hapsak Pancasila
371
Back Cover
374
Hak Cipta

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2020)

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyahsampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamkamilik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.


Seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu, Hamka tercatat sebagai penulis Islam paling prolifik dalam sejarah modern Indonesia. Karya-karyanya mengalami cetak ulang berkali-kali dan banyak dikaji oleh peneliti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tulisannya telah menghiasi berbagai macam majalah dan surat kabar. Yunan Nasution mencatat, dalam jarak waktu kurang lebih 57 tahun, Hamka melahirkan 84 judul buku. Minatnya akan bahasa banyak tertuang dalam karya-karyanya. Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Merantau ke Deli yang terbit di Medan melambungkan nama Hamka sebagai sastrawan. Ketiganya bermula dari cerita bersambung yang diterbitkan oleh majalah Pedoman Masyarakat. Selain itu, Hamka meninggalkan karya tulis yang menyangkut tentang sejarah, budaya, dan bidang-bidang kajian Islam.



Informasi bibliografi