Seratus Tahun Kesunyian (new)

Sampul Depan
Bentang Pustaka, 1 Jan 2007 - 547 halaman

Novel Seratus Tahun Kesunyian berlangsung di Macondo, sebuah kota imaginatif yang hanya ada dalam benak pengarangnya, Gabriel Garcia Marquez. Marquez lalu menyatukan realitas dan fantasi untuk menggarap suatu sejarah-tak-resmi tentang Amerika Latin, kalau tidak tentang negerinya sendiri.

Novel ini bercerita tentang dinasti Buendia selama tujuh generasi, tentang pertumbuhan, dan benturan-benturan dalam lingkungan mereka, tentang keterlibatan mereka antara penerimaan dan penolakan, sehingga berlangsunglah keakraban, pertarungan, chaos, dan cinta-antar-pribadi yang berlarut-larut.

Oleh beberapa kalangan, Seratus Tahun Kesunyian disebut-sebut sebagai novel tentang pergolakan politik, atau novel yang aktif terlibat dalam perjuangan keadilan dan kemanusiaan. Tetapi konflik ideologi, perang saudara, dan perebutan kekuasaan itu hanyalah latar.

Novel ini bercerita tentang manusia di tengah kesunyiannya, yang mencoba bertahan atau mengelakkan kesunyian, tapi akhirnya menyerah dan lenyap bersama kesunyian itu.

 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Kami tak menemukan resensi di tempat biasanya.

Halaman terpilih

Isi

Bagian 1
1
Bagian 2
25
Bagian 3
49
Bagian 4
79
Bagian 5
107
Bagian 6
138
Bagian 7
162
Bagian 8
189
Bagian 12
295
Bagian 13
322
Bagian 14
352
Bagian 15
383
Bagian 16
411
Bagian 17
436
Bagian 18
465
Bagian 19
493

Bagian 9
215
Bagian 10
242
Bagian 11
269
Bagian 20
523
Bagian 21
549

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2007)

Gabriel José de la Concordia Garcí­a Márquez was a Colombian novelist, short-story writer, screenwriter and journalist. Garcí­a Márquez, familiarly known as "Gabo" in his native country, was considered one of the most significant authors of the 20th century. In 1982, he was awarded the Nobel Prize in Literature.

He studied at the University of Bogotá and late worked as a reporter for the Colombian newspaper El Espectador and as a foreign correspondent in Rome, Paris, Barcelona, Caracas and New York. He wrote many acclaimed non-fiction works and short stories, but is best-known for his novels, such as One Hundred Years of Solitude (1967) and Love in the Time of Cholera (1985). His works have achieved significant critical acclaim and widespread commercial success, most notably for popularizing a literary style labeled as magical realism, which uses magical elements and events in order to explain real experiences. Some of his works are set in a fictional village called Macondo, and most of them express the theme of solitude.

Informasi bibliografi