Sejarah nasional Indonesia: Zaman kuno

Sampul Depan
PT Balai Pustaka, 2008 - 553 halaman
8 Resensi
Indonesian history.
 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

sejarah nasional raja bali kuno

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

(oktober 2007, era prima nugraha)
Suatu malam saya bertamu ke rumah tetangga. Pak Slamet, demikian namanya. Tak jelas asal mulanya dari mana dan siapa sebetulnya Pak Slamet itu. Yang saya tahu dari
cerita anaknya, bahwa Pak Slamet berasal dari Jatiwinangun, seorang guru di Sekolah Negeri Kejuruan. Pada mulanya saya sungguh tidak menyangka pertemuan dengan dia akan menjadi sesuatu yang menghebohkan. Sebetulnya maksud kedatangan saya adalah hendak menyambangi anaknya, yang kebetulan teman almarhum adik saya. Maksudnya meminta dia untuk ikut jamaah Yasin di tempat saya. Tapi nasib berkata lain. Maksud hati ketemu anaknya, eh malah ketemu bapaknya. Sejak berulang kali saya main kerumah teman adik saya itu, memang baru sekali ini saya ketemu bapaknya.
Awalnya, sepertinya semua biasa-biasa saja. Sayapun berbasa-basi seperlunya. Meminta maaf untuk almarhum jika ada kesalahan, dan memohon untuk ikut mendoakannya. Pak Slamet pun menanggapi basa-basi saya, malah dengan sangat serius. Ya, kelewat serius. “Mas, yang paling penting itu adalah zakat… atau shodaqoh jariyah untuk adik sampeyan..”. Ini saya sepakat. Karena memang betul. Akan tetapi, beliau tidak cukup sampai disitu rupanya. Beliau segera masuk ke dalam dan mengambil Al Qur’an terjemahan yang sangat tebal. Tebal sekali pokoknya, dan sungguh saya baru pernah melihat Al Qur’an terjemah setebal itu. Intinya, beliau “memaksa” saya untuk berdiskusi. Saya sendiri agak heran, kenapa beliau tiba-tiba “memaksa” saya. Apakah tidak sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu apa maksud kedatangan saya. Atau lebih lanjut bertanya apakah saya mempunyai waktu luang atau sedang ada urusan yang perlu dikerjakan. Inilah yang membuat saya heran pada mulanya. Tapi tiba-tiba saja diskusi telah berjalan.
Pada mulanya dia bercerita tentang banyak hal, kehidupan pribadinya. Tentang bagaimana ia senantiasa “berdakwah” di tengah kesibukannya sebagai guru. Katanya juga, selalu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, luar kota malahan, dengan tanpa bayaran. Wah, ini tentu luar biasa menurut saya. Bagaimana tidak, dalam jaman sekarang ini sudah sangat jarang orang yang bisa seperti itu. Saya menjadi tertarik dengan orang ini. Akan tetapi saya juga tidak bodoh tentunya. Tidak terlalu mudah bagi saya untuk “taklid” atau mengikuti begitu saja pada pendapat orang. Biar bagaimanapun, saya selalu harus mempunyai alasan empiris tentang sesuatu hal yang saya yakini kebenaranya.
Baiklah, pertempuran adu mulut dimulai ketika dia menyatakan ketidak sepakatannya pada “ritual tahlilan”. Menurut dia tidak ada “Nash” di dalam Al Qur’an ataupun Hadits yang menyatakan tentang itu. Tentu saja saya sepakat, karena memang demikian. “Tahlilan” memang tidak ada nash ataupun haditsnya. Ia (Tahlilan) menurut saya adalah “ritual” yang hanya terdapat di negeri ini, Jawa terutama. Ia lebih sebagai suatu konvensi agama atau sistem adat atau pranata kultural bagi masyarakat Jawa. Sejarahnya sendiri cukup panjang. Jawa, sebelum Islam masuk, adalah tempat yang subur untuk kepercayaan Hindhu dan Budha, Animisme dan Dinamisme malah sabelumnya. Dahulu, pada masa itu, masyarakat jawa mempunyai suatu ritual “keagamaan” yang agak menyimpang untuk ukuran Islam dan standar sosiologis saat ini. Yaitu ritual “Maithuna”, dimana masyarakat bergerombol membentuk suatu lingkaran (kepungan) dan membaca doa (mantra), yang dimaksudkan sebagai persembahan/sesaji korban untuk “Hyang Widhi”. Biasanya ini dilakukan ketika sebelum atau sesudah orang menyelenggarakan hajat atau peristiwa “sakral”. Misalnya, kelahiran anak lelaki, kematian, pernikahan, dll. Yang menarik dalam ritual itu, bahwa “materi sesaji” yang diadakan tidaklah seperti yang kita kenal sekarang. Misalnya “daging” yang digunakan adalah “babi” atau “anjing”. Juga minumnya tidak minum teh, akan tetapi darah binatang sembelihan atau bahkan darah manusia. Juga minuman keras “arak”, bunga setaman, air, dupa dan kemenyan. Dalam acara yang lebih “sakral” malah menggunakan “perempuan” sebagai
 

8 resensi sekaligus »

Isi

Sumbersumber
47
Keadaan Masyarakat
60
Kerajaan Mataram Kuno
113
Kerajaan Kadiri
279
KerajaanKerajaan di Bali
305
Kerajaan Sunda
379
Kerajaan Singhasari dan Majapahit
421
Daftar Pustaka
485
Daftar Singkatan
513
Hak Cipta

Edisi yang lain - Lihat semua

Istilah dan frasa umum

Informasi bibliografi