Negara paripurna: historisitas, rasionalitas, dan aktualitas Pancasila

Sampul Depan
Gramedia Pustaka Utama, 2011 - 667 halaman
9 Resensi
Ulasan tidak diverifikasi, tetapi Google akan memeriksa dan menghapus konten palsu jika konten tersebut teridentifikasi
History of Pancasila, five principles of ideology of Indonesia.
 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Ulasan tidak diverifikasi, tetapi Google akan memeriksa dan menghapus konten palsu jika konten tersebut teridentifikasi
Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Kasenda, Peter, 2004, Bung Karno Panglima Revolusi. Yogyakarta: Galang Press.

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Sejatinya sebuah Negara Paripurna adalah sesuai dengan pandangan para pendiri bangsa terhadap Pancasila yang dijadikan titik tumpu Ideologi Indonesia, setidaknya itu yang dikatakan oleh penulis, Prof. Yudi Latif. Adapun, aspek-aspek penunjang dalam buku ini berupa Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila dapat dijabarkan secara deskriptif. Secara redaksional, ketiga poin tersebut merupakan hasil analisis tinjauan terhadap Pancasila kepada berbagai aspek elementer pelaksanaan bernegara di Indonesia. Historisitas berarti meninjau Pancasila berdasarkan dari sepak terjang sejarahnya, Rasionalitas berarti melihat bagaimana pengimplementasian Pancasila terhadap bidang-bidang sektoral lain di Indonesia, dan Aktualitas merupakan pengidentifikasian pelbagai praktik Pancasila di kehidupan sehari-hari.
Indonesia dan Pancasila merupakan suatu sinergi yang tidak dapat dipisahkan entitasnya, sebagaimana kita membahas sejarah Indonesia, kita juga akan membahas sejarah Pancasila, begitupun sebaliknya. Sejarah kedua entitas ini merupakan perjalanan tentang apa, siapa, kapan, mengapa, dimana, dan bagaimana proses bangsa mencari ketuhanan, kebangsaan, kebersamaan, dan hal lainnya. Jika secara aktualisasi tertulis, Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 seiringan dengan pidato Soekarno di sidang BPUPKI. Namun, secara ide, Pancasila sejatinya lahir pada tiap insan bangsa Indonesia bersamaan dengan perjuangan melawan ketidakadilan kolonialisme dan imperialisme.
Sejarah Pancasila pada buku ini terbagi menjadi tiga fase; Pembuahan, Perumusan, dan Pengesahan. Pertama, fase pembuahan. Fase ini merupakan proses sinkronisasi dan integrasi mengenai berbagai ideologi dan buah pemikiran mengenai konsep berbangsa dan bernegara para pahlawan bangsa. Periode Indonesia 1920-an selalu diingat dengan adanya konflik Sarekat Islam yang bereskalasi kepada pecahnya organisasi tersebut menjadi Sarekat Islam Merah (SI Merah) dan Sarekat Islam Putih (SI Putih). Dengan pecahnya organisasi terbesar di Indonesia pada saat itu, lantas membuat frustasi berbagai kalangan aktivis, khususnya kalangan akademisi dan intelektual. Melalui peristiwa tersebut, upaya menciptakan suatu dasar falsafah mengenai berbangsa dan bernegara sebagai siasat pembentukan fundamental bangsa baru mulai berjalan. Proses dialektika intelektual yang kemudian menjadi buah gagasan dasar Pancasila tumbuh melalui Perhimpunan Indonesia (PI). Hadirnya nilai-nilai tunggal seperti Persatuan, Kemandirian, Non-kooperasi, dan Solidaritas dirumuskan berdasarkan pemikiran beberapa organisasi besar di Indonesia yang ada saat itu. Sosok lain yang turut berpengaruh kepada cikal-bakal Pancasila adalah Soekarno. Berdasarkan akar pemikirannya mengenai konsep sinergi berbagai golongan di Indonesia, sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan sosio-religius kemudian melahirkan gagasan Marhaenisme. HOS Tjokroaminoto juga turut berperan dalam mencari jati diri bangsa sebagaimana merupakan guru besar dari beberapa tokoh pejuang kemerdekaan; Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo. Dinamika yang terjadi mengenai dialektika sintesis tersebut turut mengantarkan pada fase selanjutnya, fase perumusan.
Kedua, fase perumusan. Berawal dari sidang BPUPKI, Jepang pada mulanya tidak ada itikad untuk memberikan kemerdekaan pada Indonesia, dengan demikian, rumusan awal pembagian teritorial Indonesia terbagi menjadi tiga; Rikugun/IJA/ mendapatkan dua wilayah Barat, Kaigun/IJN/ mendapatkan wilayah Timur. Namun, setelah Morotai jatuh ke tangan sekutu, Jepang berinisiasi untuk menarik simpati pejuang Indonesia. Pada fase ini, pemberian kemerdekaan oleh Jepang ditujukan untuk Jawa dan Madura, dikarenakan kedua wilayah ini selalu menuai konflik. Oleh karena itu, pada masa perumusan, hanya dikenal BPUPK tanpa adanya “I” sebagai representasi Indonesia, karena kemerdekaan yang digagaskan oleh Jepang hanya berorientasi pada Jawa sebagai Jawanesia. Pada sidang pembukaan BPUPKI, Radjiman Wedyodiningrat melontarkan pertanyaan yang dimaknai sebagai salah satu pertanyaan penting dalam sejarah lahirnya Pancasila; “Apa
 

9 resensi sekaligus »

Halaman terpilih

Edisi yang lain - Lihat semua

Istilah dan frasa umum

Informasi bibliografi