Kejawen: jurnal kebudayaan Jawa

Sampul Depan
Media Pressindo
2 Resensi
On Javanese culture.
 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

kebudayaan sebagai ikhtiar

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

KEMBALI PADA KEPRIBADIAN SENDIRI
A. POKOK BAHASAN
Perpustakaan Negara di Washington mendokumentasi buku yang ditulis oleh 10 Doktor terkemuka didunia, menyimpulkan : Indonesia akan menjadi Negara Adidaya apabila kembali pada Kepribadiannya ( Jatidirinya).
Kepribadian mencakup Kebudayaan, Adat istiadat, Kemandirian, Spiritualisme, dll nilai luhur & kearifan lokal dalam praktek kehidupan sehari hari.
Pernyataan didalam buku dokumen tsb sangat benar berdasar argumen dibawah ini.
1. Fakta bahwa Negara maju, selalu tampil dengan kepribadiannya sendiri. Seperti Cina, Jepang, Thailand, Saudi Arabia, Inggris, Belanda & Perancis.
Mereka tetap mempertahankan kebudayaannya, diforum internasional tetap tampil dengan busana nasionalnya, produk exportnya dikemas dengan bahasa & huruf nasionalnya, dll kepribadian yang melekat dalam kehidupan sehari hariannya.
2. Menumbuh kembangkan kepribadiannya berarti menghargai peninggalan leluhur. Otomatis mendapat berkah dari leluhur. Leluhur yang telah ratusan hingga ribuan tahun wafat, sudah tentu dalam posisi dekat dengan Tuhan, maka mudah memohonkan kemuliaan bagi bangsanya yang tetap menjaga jatidiri & peninggalan hasil karyanya.
B. URAIAN
1. Potret bangsa masa kini.
Rendahnya martabat bangsa karena telah kehilangan jatidiri. Pandangan hidup & kehidupan sehari hari telah dipengaruhi asing. Dapat dikiaskan sebagai Mr Ali Babah.
Mr sebagai simbol pengaruh Barat, Ali sebagai tanda budaya Arab & Babah sebagai bukti kebanjiran produk Cina. Jadi kehidupan sehari hari diwarnai kebarat baratan, kearab araban & kebabah babahan. Hilang sudah kepribadiannya sendiri. Demokrasi menggusur Gotong royong, syariat menggusur Adat istiadat & import hasil bumi menggusur Lapangan kerja ratusan juta petani. Jadilah kita bangsa antek Barat, budak Arab & suapan Cina. Namun tidak disadari oleh para pemimpin bangsa, bahkan menjadi kebanggaan.
Yang dibanggakan kerjasama untuk mengatasi issue issue internasional, faktanya SDA dikuasai Negara Negara Barat.
Yang dibanggakan TKW sebagai pahlawan devisa, faktanya sebagai budak Arab.
Yang dibanggakan telah mencapai ketahanan pangan, faktanya dibanjiri hasil bumi & produk Cina.
Yang menyedihkan, rakyat yang bodoh ini menerima kebanggaan tersebut diatas, yang notabene kebohongan kepada publik itu, sebagai keberhasilan pemerintah.
2. Kejayaan bangsa masa lalu.
Diabad ke 7, ketika dunia Arab masih mengalami zaman Jahiliyah dimana perempuan hanya sebagai komoditas sex, di Jawa sudah berdiri kerajaan besar yang dipimpin seorang perempuan, yang bernama Kanjeng Ratu Shima. Ini sebagai bukti bahwa nilai peradaban kita sudah jauh lebih tinggi dengan menjunjung seorang perempuan menjadi raja & panutan, dibandingkan dengan didunia Arab yang hanya sebagai pemuas syahwat waktu itu.
Diabad ke 9, ketika dunia barat belum mampu membangun monument raksasa, kita sudah membuat candi Borobudur sebagai keajaiban dunia & lagi pula dibangun oleh seorang perempuan bernama ratu Pramodhawardani. Sementara itu, sang suami yang bernama Prabu Rakai Pikatan membangun candi Prambanan sebagai candi Hindu yang terindah didunia.
Diabad ke 13, ketika Ku Bilai Khan, raja diraja yang menguasai sepertiga dunia, mengirim utusan ke kerajaan Kediri agar tunduk dibawah Mongol, Raja Kertanegara justru menantang perang dengan memotong sendiri hidung & telinga utusan tadi serta disuruhnya pulang. Pasukan Mongol yang kemudian datang diperdaya & dihancurkan oleh menantu Kertanegara yaitu R. Wijaya.
Sejak dahulu kala disepanjang abad, ketika Cina belum mengexport apapun, Mataram, Kahuripan, Sriwijaya, Kediri, Singosari & Majapahit telah mengexport hasil bumi & tambang kenegeri negeri Asia. Bahkan Perguruan Tinggi pertama didunia (abad VII), sebagai pengexport ilmu, ada di kerajaan Sriwijaya.
Itulah kejayaan masa lalu yang ditandai dengan percaya diri, mandiri, berani, tegas (tidak selalu
 

Isi

Bagian 1
1
Bagian 2
38
Bagian 3
55
Bagian 4
62
Bagian 5
79
Bagian 6
91
Bagian 7
103
Bagian 8
124

Istilah dan frasa umum

Informasi bibliografi