Kasus pembunuhan Munir: kejahatan yang sempurna?

Sampul Depan
Gramedia Pustaka Utama, 2009 - 263 halaman
2 Resensi
"Kasus Munir dimulai pada 7 September 2004, ketika lelaki 38 tahun itu meninggal, dan hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan. Bagaimana sebenarnya Munir dibunuh? Siapa pelakunya? Mengapa? Bagaimana penegak hukum bekerja? Masyarakat pernah akrab dengan wajah Pollycarpus dan Muchdi Pr. saat keduanya berstatus terdakwa. Kini, Polly telah menjadi terpidana penjara 20 tahun, tapi bersikeras bahwa dirinya difitnah dan akan melanjutkan upaya hukum. Muchdi divonis bebas oleh Pengadilan Negeri, tapi jaksa melakukan kasasi terhadap putusan itu. Dengan penuturan yang mendalam, Kasus Pembunuhan Munir menceritakan penerbangan panjang Munir menuju Belanda, perjuangan jaksa dan pengacara di pengadilan, wawancara dengan Polly di LP Cipinang dan Sukamiskin, serta pendapat orang-orang yang terlibat atau peduli dengan kasus ini."

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Catatan Lengkap Kasus Munir
Munir, seorang mantan koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) pantas dijuluki sebagai pahlawan orang hilang. Dia seorang pejuang
HAM sejati yang gigih dan berani. Keberaniannya jauh melampaui sosok pisiknya yang kerempeng. Namun, sayang, Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial kelahiran Malang 8 Desember 1965 ini, wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, dalam penerbangan menuju Amsterdam, 7 September 2004.
Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran sejak Pak Harto masih berkuasa. Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.
Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998).
Sementara, kendati namanya sudah mendunia, Munir tetap hidup bersahaja. Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial (2004) ini, tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor. Sekali waktu motornya pernah dicuri. Padahal ia pun sering mendapat ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, ia pun diancam akan dijadikan sosis oleh orang yang mengaku aparat keamanan. Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada akhir kekuasaan Soeharto.
Kehadiran buku Kasus Pembunuhan Munir ini berasal dari pengamatan penulis, Wendratama, catatan resmi seperti catatan pengadilan, laporan investigasi Garuda Indonesia, atau wawancara dengan orang yang terlibat langsung atas tragedi kematian Munir. Dengan penuturan yang mendalam, dilengkapi dengan sumber lain yang teridentifikasi di dalam teks, misalnya media atau orang yang tidak terlibat memberi wawasan mendalam kepada pembaca seputar kasus ini. Buku ini bisa menjadi sumbangan besar di tengah kebutuhan masyarakat akan dokumentasi tentang kasus munir.
Diambil dari http://blog.beswandjarum.com/nurulikhsan (M. Nurul Ikhsan Saleh)
 

Edisi yang lain - Lihat semua

Informasi bibliografi