Hukum Adat : Perkembangan dan Pembaruannya

Sampul Depan
Syiah Kuala University Press, 18 Jul 2018 - 317 halaman
0 Resensi
Ulasan tidak diverifikasi, tetapi Google akan memeriksa dan menghapus konten palsu jika konten tersebut teridentifikasi

Kehadiran hukum moderen, tanpa disadari mulai mempositifkan 

kedudukan hukum adat [positivisasi hukum adat] melalui berbagai 

peraturan perundang-undangan. Upaya ini memberi sinyal bahwa 

sistem hukum adat yang pure sebagai hukum tidak tertulis 

lambat laun akan menjadi hukum positif. Perkembangan dan pembaruan

sistem hukum adat itu sendiri, yang dari pengalaman ratusan

tahun lamanya, masih tetap bertahan sebagai unwritten law tanpa ada

yang mencekokinya. Buku ini, diawali dengan mengetengahkan uraian

pertarungan antara hukum adat (unwritten law) dengan hukum positif

(positivitic law), dan diakhiri dengan uraian pembaruan hukum adat.

 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Kami tak menemukan resensi di tempat biasanya.

Halaman terpilih

Isi

BAB 1 Pendahuluan
1
Cover
7
BAB 3 Sejarah Hukum Adat Hingga Masa Kolonial
23
BAB 4 Sejarah Hukum Adat dari Masa Kemerdekaan Hingga Perdamaian Aceh
35
BAB 5 Proses Lahirnya Hukum Adat
43
BAB 6 Corak dan Sistem Hukum Adat
63
BAB 7 Hukum Keluarga dan Harta Perkawinan Adat
89
BAB 8 Waris Adat
133
BAB 9 Tanah Dalam Hukum Adat
151
BAB 10 Hukum Pidana Adat
177
BAB 11 Peradilan Adat
203
BAB 12 Menuju Pembaruan Hukum Adat
293
Glosarium
295
Hak Cipta

Istilah dan frasa umum

Tentang pengarang (2018)

Dr. Teuku Muttaqin Mansur, M.H. lahir di Meunasah Mulieng, Pidie Jaya pada 5 September 1979. Lulusan Program Doktoral (S3) pada Fakulti Undang-Undang Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini berhasil menyelesaikan kajian Disertasi dalam bidang ilmu hukum adat dengan judul: Adat Court in The Urban Society in Aceh: Suggestions for Improvements (Melayu Malyasia: Mahkamah Adat dalam Masyarakat Bandar di Aceh, Satu Cadangan Penambahbaikan) pada tahun 2015. Keilmuan hukum adat yang dimiliki mengikuti jejak  ayahnya yang aktif dan peduli pada pengembangan hukum adat dan istiadat. Terakhir ayahnya (sebelum meninggal dunia saat tsunami Aceh 26 Desember 2004) pernah menjabat sebagai Sekretaris Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Pidie, Aceh. Sejak tahun 2008 mengajar mata kuliah Hukum Adat dan Hukum Pidana Adat pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala dan di beberapa Fakultas Hukum pada Universitas lain di kota Banda Aceh.  

Informasi bibliografi