Bertanya kerbau pada pedati: kumpulan cerpen

Sampul Depan
Gramedia Pustaka Utama, 2002 - 137 halaman
1 Resensi
 

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi

Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas

Bertanya Kerbau Pada Pedati (Cerpen)
Cerita Bertanya Kerbau pada Pedati ini merupakan gambaran pengalaman pribadi penulis. Cerita ini merupakan kehidupan penulis dan lingkungannya pada masa perang
kemerdekaan. Dimana pada saat itu, kerbau memiliki arti yang spesial dalam hidupnya, bukan karena cerita Cindur Mato yang mengisahkan seekor kerbau keramat bernama Binuang, yang dalam telinganya bersarang lebah berbisa, bukan karena mitos lain, yang mengisahkan kalah perangnya Panglima Jawa melawan Datuk nan Baduo, oleh sebab kalah taruhan adu kerbau, melainkan karena kerbau itu sering lalu lintas di depan mata penulis pada saat itu.
Pada masa itu, ayah penulis membuka warung yang berletak di tepi jalan raya di pendakian yang panjang. Penulis biasa membantu ayahnya setiap pagi dan sore apabila dia tidak ada kesibukan. Dari dalam warung, perhatian penulis terpana kepada pedati yang mengangkut barang dagangan yang umumnya milik penduduk pesisir.
Setiap datang dari pesisir, kerbau itu berhenti di depan warung Ayah. Tapi bukan beristirahat atau membeli barang dagangan Ayah, melainkan untuk membuang kotoran, berak. Sebaliknya, bila mereka pulang ke Pesisir, mereka lewat saja dengan tenang-tenang, tapi sambil jalan kerbau itu terkencing-kencing.
Itu yang membuat penulis jengkel, karena baunya sangat menganggu. Ada apa dengan tukang pedati dan kerbaunya, karena sepertinya Ayahnya tidak melakukan sesuatu yang salah kepada mereka.
Lambat laun akhirnya penulis mengerti apa yang dirasakan kerbau. Penulis merasa iba terhadap beban yang ditanggungnya. Matanya memerah seperti urat-urat darahnya mau memecah, tetapi tukang pedatinya terus saja memaksa kerbau untuk menarik pedatinya. Seolah-olah dia mendengar keluhan yang disampaikannya. Kerbau itu memberontak dan sampai kerbau itu terlepas dari pedati itu dan pedati terjongkong kebelakang dan muatannya berserakan.
Bisakah seekor kerbau bertanya kepada pedati kenapa ia harus terus menariknya melalui jalan yang mendaki? Mungkinkah Chairil Anwar, Stalin, Gandhi dan Marilyn Monroe ada dalam sebuah forum yang mendiskusikan tentang perdamaian dunia? Dapatkah seekor ayam berubah menjadi manusia? Bagaimana bisa sepotong kaus kaki menjadi ujung tombak sebuah demonstrasi? Jawabannya ada di kumpulan cerpen ini. Setiap cerpen disajikan dengan gaya bertutur yang memikat dan kaya metafora serta perlambangan yang dikaitkan dengan realitas kehidupan dewasa ini.
Bertanya kerbau pada pedati, sebuah cerpen karya seorang sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia, AA Navis. Cerita yang lebih memfokuskan kerbau dalam analogi ceritanya. AA Navis menarik pembaca pada awal cerita dengan membawa kerbau sebagai simbol dari daerahnya, Minangkabau.
Cerita bertanya kerbau pada pedati berisi pemikiran seorang anak kecil yang pada awalnya membenci kerbau, kemudian berbalik mengasihinya. Kerbau yang selalu membuang kotoran didepan warung ayahnya. Narator membenci hal ini, sampai akhirnya sebuah kejadian menyadarkan penderitaan kerbau selama ini.
Pengulatan tokoh memeberi kekuatan tersendiri dalam cerita. Dimana kerbau dan pedati diberi kekuatan seolah dapat menyatakan apa yang seharusnya diperbuat. Cerita pendek ini membuka fikiran pembaca untuk lebih peka terhadap perasaan.
Keegoisan tukang pedati, kepolosan narator dalam mengungkapkan apa yang dirasakannya dan akhir cerita yang tidak biasa membuat daya tarik cerita. Pemaparan lugas dan apa adanya juga menambah nilai tersendiri ketika membaca cerita ini.
Setiap orang Minang yang membaca cerita ini akan ditarik untuk mebaca cerita pendek yang satu ini. Penulis menceritakan tentang Minangkabau. Atau orang yang tidak mengenal asal muasalal cerita juga dapat memberi pemahan sedikit tentang budaya minang. Cerita pendek yang unik dengan menggangkat unsur budaya daerah.
 

Halaman terpilih

Isi

Dokter dan Maut
14
Sebelum Pertemuan Dimulai
36
Pemburu dan Serigala
53
Angkatan 00
67
Kucing Gubernuran
78
Kuda Itu Bernama Ratna
86
Bertanya Kerbau pada Pedati
95
Malin Kundang Ibunya Durhaka
109
Pendekar dan Ayam Jago
119
Kaus Kaki
131
Daftar Kata Daerah
138
Tentang Penulis
142

Edisi yang lain - Lihat semua

Istilah dan frasa umum

Informasi bibliografi