Anjing GunungBASABASI, 2018 - 88 halaman Anjing Gunung adalah bentuk hubungan antara tangkapan visual dan teks. Hubungan ini membuatku merasa seakan-akan ada sesuatu yang muncul di tengah kesimpangsiuran; sebuah pemahaman bahwa puisi sesungguhnya merayakan apa-apa yang hadir dari segala ruang sekaligus menampakkan detail-detail lain. Detail-detail yang cenderung klise dan bukan perkara yang diperhitungkan. Tapi puisi memunculkannya sehingga kebermaknaannya memiliki peluang yang lebih luas. Puisi bagiku adalah keberartian non praktis, seperti kerlip bintang atau warna ungu pada bunga putri malu. Irma Agryanti |
Istilah dan frasa umum
ampenan Anjani Anjing Gunung balik bukit berdengung cahaya Celeng cemas ceruk cinta cupak datang debu Debu-Debu dilenyapkan dingin disentuhkan bagai gamang garis gelap Gema Lonceng gembala gemetar gending gurantang harum hujan hutan tropis International Writers Festival Irma Agryanti jadi jagung Jalan Laba-Laba Jalan Sepi Jembatan jurang kaki kapas kering kesedihan ketinggian kibasan kilau kupu-kupu ladang langit laut lidah Lombok lubang hitam makam Makassar International Writers Mandalika mata air matahari mataram maut melepas memandang aku jasad memasuki gerbang membentanglah Mendatangi Hutan menyeberang Merah Sesaat Sebelum meski mesti mitologi mungkin musim nasib paling panggung pelancong Peluit Pengantar Penyair Penggilingan Pengibing Penyeberangan Selat peziarah pinus Planetarium Pohon Bunut pohon-pohon puisi-puisi Rasa keterpesonaan remang rimbun ruang kosong Savana sebab seberang Sebuah Pentas seekor anjing berjalan selembut sepasang mata sinar Sindu Putra suara Suara-Suara Jauh sukacita Sumbawa sunyi syahdan syair Tambak tangan tangkapan visual tanjung tarian temui tiba tionghoa tubuh udara ujung warna
